Laman

Translate Here!!!

Tampilkan postingan dengan label About Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Jepang. Tampilkan semua postingan

13 Mei 2012

Mudahnya Membuat Sushi Sendiri Di Rumah: Sushi Isi Telur Goreng, Daging Asap, Ketimun, Wortel & Jamur



Kuliner Jepang sering kali membuat saya takjub dan kagum, bukan akan bumbu dan tastenya - karena terus terang kurang sesuai dengan lidah saya - kekaguman saya lebih pada bagaimana makanan tersebut ditampilkan dengan sangat menarik hati dan rapi. Bukan rahasia lagi jika menyajikan makanan dengan baik sangat penting di Jepang.

Sebagai contohnya adalah bento. Bento merupakan bekal makan siang yang dipersiapkan dengan hati-hati oleh para ibu atau wanita di rumah untuk suami, putra-putri atau diri mereka sendiri. Umumnya bento berisi nasi, ikan/daging, acar dan sayuran masak yang dikemas dalam sebuah kotak. Bahkan di Jepang, diselenggarakan kontes menata bento, dimana biasanya aneka ragam style bento ditampilkan sepertikyaraben atau karakter bento, bento yang didekorasi mengikuti tokoh animasi terkenal di Jepang atau oekakiben, picture bento, yang ini bento didekorasi sehingga mirip seperti manusia, binatang atau tumbuhan.




Okeh, kita kembali ke sushi, topik postingan kali ini. Sebagaimana halnya bento yang dipersiapkan dengan hati-hati maka sushi pun demikian halnya. Makanan ini juga umum disajikan untuk bento, dikenal dengan nama sushi bento. Sushi yang biasanya disajikan untuk bento ini adalah jenis makizushi/sushi gulung dan nigirizushi, sushi yang berupa kepalan nasi dan dihiasi dengan potongan daging ikan atau udang mentah diatasnya. Umumnya jika ke Japanese resto di Jakarta saya lebih suka memesan sushi jenis makizushi atau roll sushi, potongan-potongan nasi sushi berselimut nori dan diisi dengan sayur seperti ketimun atau telur dan ikan, dicocol dengan soy sauce dan sedikit wasabi. Hmm, oishii alias enak!

Yah, mungkin dari sekian makanan Jepang hanya sushi yang saya sukai dan membuatnya sendiri ternyata tidak susah lho. Bahan-bahannya kita cari yang sederhana saja dan hasil rasanya tidak kalah dengan sushi yang ada di restoran Jepang. Nah, untuk nasi sushinya, saya tidak menggunakan beras Jepang karena cukup mahal harganya, jadi saya menggunakan beras biasa saja plus sedikit beras ketan putih. Nasinya saya tambahkan dengan rice vinegar atau cuka beras seperti gambar dibawah, cuka beras ini bisa anda beli di supermarket besar atau toko bahan makanan Jepang/Korea dengan harga yang tidak mahal. Atau jika tidak mau repot, skip saja bahan tersebut. Bahan pengisinya, saya menggunakan wortel, ketimun, jamur, telur dadar dan daging asap. Jenis sushi roll seperti ini sangat fleksibel untuk diisi dengan lauk atau sayur apapun. Bahkan diisi dengan tempura udang atau tuna juga lezat.




Sushi paling lezat jika dimakan dengan soy sauce dan wasabi. Soy sauce atau kecap asin ini bisa menggunakan merk apapun ya, saya pernah menggunakan mulai dari merk Kikkoman, merk Korea yang saya tidak bisa membaca namanya karena huruf kanji hingga kecap asin ABC, semua enak kok.

Untuk wasabinya, anda bisa pakai atau jika dihilangkan dari resep juga tidak apa-apa, jika anda berniat menggunakannya maka wasabi bisa dibeli di supermarket besar yang menyediakan konter untuk Japanese Food. Ada dua jenis wasabi, berbentuk pasta siap pakai yang telah jadi atau bubuk tepung seperti yang saya gunakan.



Wasabi (Wasabia japonica) ini merupakan jenis tanaman keluarga kubis-kubisan yang umum digunakan sebagai penyedap masakan Jepang. Bagian tanaman yang digunakan untuk pasta adalah akarnya walaupun daun dan pucuk mudanya juga bisa dikonsumsi. Rasa wasabi pedas, menyengat tetapi berbeda dengan pedasnya cabai atau merica ya karena rasa menyengat wasabi walaupun sampai ke hidung tetapi hilang dalam sekejap. Kadang-kadang jika menikmati sushi di resto, saya dan teman-teman saling mentertawakan diri sambil berurai air mata karena sengatan wasabi yang lewat ^_^. Saran saya jika anda ingin membeli wasabi maka pilih yang berbentuk bubuk saja agar rasa tajam wasabi tidak mudah hilang. Gunakan seperlunya dan tutup rapat kemasannya.

Okeh, anda sudah mengantuk? Kita ke resep dan cara pembuatannya saja yuk.



Mudahnya Membuat Sushi Sendiri 
Di Rumah: 
Sushi Isi Telur Goreng, Daging Asap, Ketimun, Wortel & Jamur

Resep diadaptasikan dari Just Hungry - Making Sushi Rice

Bahan untuk nasi sushi:
- 350 gram beras cuci bersih
- 1 genggam beras ketan
- 600 ml air

Penyedap rasa untuk nasi:
Untuk setiap nasi dengan berat 350 gram (cukup untuk 1 gulung sushi), anda membutuhkan takaran bahan penyedap seperti di bawah:
- 1/2 sendok makan rice vinegar
- 1/2 sendok makan gula pasir
- 1 sendok teh garam

Bahan isi (untuk 2 gulung sushi):
- 1 buat ketimun potong ukuran 1 x 5 cm
- 1 buah wortel, potong ukuran 1 x 5 cm
- 2 buah jamur, iris
- 1 buah telur ayam kocok plus 1/4 sendok teh garam, dadar
- 5 lembar daging asap, goreng matang
- 2 sendok makan kecap asin, untuk bahan perendam

Pelengkap:
- Wasabi
- Soy sauce atau kecap asin

Cara membuat:
Mempersiapkan bagian isi sushi:


Siapkan sayur yang akan kita pergunakan. Potong-potong memanjang ketimun dan wortel dengan ukuran kira-kira 1 x 5 cm. Biarkan ketimun dalam kondisi segar. Rebus sebentar wortel dan jamur, hanya agar layu. Masukkan terlebih dahulu wortel baru kemudian jamur, angkat jika jamur mulai layu. Tiriskan wortel dan jamur. Letakkan di mangkuk dan tuangkan 2 sendok makan kecap asin. Aduk rata. Sisihkan.


Panaskan wajan, goreng daging asap hingga kering, angkat dan tiriskan, serap kelebihan minyak dengan tissue dapur. Dadar telur dengan minyak sedikit, jika bagian dasar mulai mengeras sementara bagian atas masih cair, lipat dadar menggunakan ujung spatula kayu, lipat sebanyak dua kali sehinga telur agak tebal seperti gambar diatas, masak hingga telur dadar matang. Tiriskan. Potong-potong telur dan daging asap memanjang seukuran sayuran.

Mempersiapkan nasi sushi:


Cuci beras bersama 1 genggam beras ketan hingga bersih, tiriskan. Masukkan beras ke dalam rice cooker, beri air dan masak hingga nasi matang.

Dalam mangkuk kecil, tuang rice vinegar/cuka beras, gula dan garam, aduk-aduk hingga larut. Sisihkan.

Ambil kira-kira 350 gram nasi dalam kondisi masih panas ya, masukkan ke dalam mangkuk. Tuangkan sedikit demi sedikit larutan rice vinegar sambil nasi di aduk dengan pengaduk kayu atau plastik. Aduk nasi hingga campuran merata dan nasi menjadi agak lembab dan lembek serta menempel satu sama lain. Susah untuk dijelaskan dan saya lupa foto, yang jelas nasi agak menggumpal tetapi tidak terlalu basah. Kipas-kipas nasi selama diaduk agar uap air hilang.

Membungkus Sushi



Semua bahan telah siap, sekarang kita akan bungkus sushi dengan nori atau rumput laut.

Siapkan sushi mat atau anyaman bambu untuk membungkus sushi. Sushi mat bisa di beli di supermarket bahan makanan Jepang atau toko bahan makanan Jepang dan Korea. Anda juga bisa menggunakan kain serbet bersih untuk menggulung sushi atau tatakan piring untuk meja makan yang terbuat dari anyaman bambu atau lidi.



Letakkan sushi mat diatas meja, beri selembar nori diatasnya. Letakkan dua gumpalan nasi sushi di salah satu ujung nori, ratakan dengan sendok yang dibasahi air atau jari-jari tangan yang dicelupkan ke air agar tidak lengket. Jangan sekaligus menaruh banyak nasi ke nori ya karena jika nori terkena nasi panas menjadi sulit diatur. Tambahkan gumpalan nasi kembali ke atas nori dan ratakan sehingga nasi memenuhi permukaan nori.

Taruh irisan sayur, telur dan daging asap diatas nasi, rapikan.



Gulung sushi dengan menekuk sushi mat, gunakan dua buah ibu jari untuk mendorongsushi mat dari bawah sementara jari-jari tangan anda yang lain menahan isi sehingga tidak berhamburan dan tergulung bersama nasi. Sementara telapak tangan mendorongsushi mat menjauhi badan anda sehingga sushi mat membentuk satu gulungan. Tekan nasi selama menggulung agar sushi padat.

Potong-potong sushi dengan ukuran 1 1/2 cm. Lakukan hingga bahan habis.

Penyajian sushi



Sushi umumnya disajikan dengan dicelupkan kedalam soy sauce atau kecap asin dan wasabi. Jika wasabi yang anda gunakan berbentuk bubuk seperti gambar diatas maka larutkan 1 sendok makan wasabi dengan 1/2 sendok makan air matang dan aduk rata hingga menjadi pasta.



Sushi siap dihidangkan dengan soy sauce dan wasabi. Enjoy!

Sushi (PART 2)

Makizushi

Makizushi dan Inarizushi di supermarket Jepang.


Sushi berupa gulungan nasi berisi potongan mentimun, tamagoyaki dan neta lain yang dibungkus lembaran nori. Nasi digulung dengan bantuan sudare(anyaman bambu bentuk persegi panjang).

Makizushi dibagi menjadi:
Hosomaki: gulungan berdiameter minimum 3 cm hanya berisi satu jenis neta (misalnya mentimun atau tuna).
Futomaki: gulungan berdiameter di atas 5 cm berisi berbagai macam neta.
Temakizushi: nasi digulung sendiri dengan nori sebelum dimakan, neta juga dipilih sendiri dari piring.

Di daerah Kansai terdapat tradisi ehomaki untuk mengundang keberuntungan pada Hari Ekuinoks Musim Semi. Satu gulung utuh Futomakizushi harus dimakan sambil menghadap ke arah mata angin keberuntungan. Ketika memakannya, orang juga dilarang mengeluarkan suara atau berbicara. Tradisi ini mulanya dipopulerkan oleh asosiasi pedagang sushi pada tahun 1970-an.

Chirashizushi
Nama-chirashi, atau chirashizushi dengan bahan mentah.

Nasi sushi dimakan bersama neta berupa makanan laut dan sayur-sayuran yang dipotong kecil-kecil. Nasi sushi tidak dibentuk melainkan diisikan ke dalam wadah dari kayu, piring atau mangkuk. Chirashizushi merupakan salah satu masakan rumah yang populer di Jepang untuk memperingati hari-hari istimewa seperti ulang tahun anak-anak dan perayaan Hina Matsuri.

Di daerah-daerah lain di Jepang, chirashizuhi mempunyai banyak nama lain seperti suzushi di Prefektur Kagoshima, matsurizushi di Prefektur Okayama, tekonezushi (di Prefektur Mie), bahkan ada daerah-daerah tertentu yang menghias chirashizushi dengan buah-buahan seperti potongan apel, jeruk, danceri.

Oshizushi

Sasazushi (salah satu tipe oshizushi), adalah sushi yang dibungkus daun bambu.

Nasi disusun bersama neta yang dipres untuk sementara waktu dengan maksud memadatkan nasi agar sushi yang dihasilkan berbentuk persegi panjang yang lalu dipotong-potong agar mudah dinikmati. Oshizushi ada juga yang dibungkus daun bambu lalu dipres untuk sementara waktu, antara beberapa jam sampai satu malam. Nama-nama oshizushi yang populer antara lain:
Sabazushi berisi ikan kembung yang mempunyai beberapa nama lain seperti battera di Prefektur Osaka atau bozushi di Kyoto
Masuzushi di Prefektur Toyama
Oshizushi ikan Funa dari Prefektur Mie
Sanmazushi dan Gozaemonzushi dari Prefektur Tottori
Iwakunizushi dari Prefektur Yamaguchi

Narezushi

Sushi zaman kuno adalah ikan yang dilumuri garam dan nasi, lalu dibiarkan hingga terfermentasi. Funazushi dari Prefektur Shiga dan hatahatazushi dariPrefektur Akita adalah dua contoh sushi asal zaman kuno. Ada pula narezushi yang ditambah ragi untuk membantu proses fermentasi, contohnya kaburazushi dari Prefektur Ishikawa dan Izushi dari Hokkaido.

Kaburazushi adalah jenis sushi yang tidak dibentuk bersama nasi. Sushi dibuat dengan menjepit irisan ikan mentah di antara dua lembar irisan lobak kabura. Setelah itu, sushi disusun di dalam tong kayu berisi campuran nasi tanak bercampur ragi. Lama fermentasi selama beberapa hari. Kaburazushi dimakan dengan tidak mencuci nasi hasil fermentasi yang menempel.

Inarizushi
Inarizushi

Nasi sushi dibungkus aburage yang sebelumnya sudah dimasak bersama kecap asin dan gula. Inarizushi tidak berisi ikan atau lauk lain karena aburage sudah merupakan sumber protein. Inarizushi berasal dari kuil Toyokawa Inari di kota Toyokawa, Prefektur Aichi.

Sushi daerah Kansai

Sushi di daerah Kansai umumnya lebih mementingkan perpaduan rasa antara nasi dan lauk daripada kesegaran ikan. Pedagang sushi membuatnya agar rasa tidak mudah berubah kalau dibeli untuk dibawa pulang. Di antara sushi khas Osaka adalah hakozushi (oshizushi), barazushi (gomokuzushi) dan berbagai macam makizushi, dan battera (sushi ikan kembung).

Sushi bungkus daun
Sushi bungkus daun kesemek khas Nara dan Wakayama.

Sushi ikan kembung yang dibungkus daun pohon persimon dari Prefektur Nara dan Wakayama adalah jenis sushi tahan lama.

Galeri
Edomae Nigiri
[江戸前握り] 

California Roll dan Tuna Roll di Uramaki
[カリフォルニア巻き] 

Nigiri Toro (perut tuna berlemak)
[鮪とろ握り] 

Salmon roll
[巻き鮭] 

Kakinoha (daun kesemek) Sushi.
[柿の葉寿司] 

Chakin-Sushi, dibungkus telur dadar tipis
[茶巾寿司] 

Hidangan sushi plater
[盛り合わせ]

Eksperimen bentuk sushi: wortel dan apel (dari Denmark) 

Ikura gunkan makizushi
[イクラ軍艦巻き] 

Sasazushi
[笹寿司] 

Nigirizushi ditawarkan di supermarket di Tokyo 

Beragam sushi dari Shimbashi Izakaya, San Diego, Kalifornia.
[盛り合わせ]

Sushi (PART 1)

Akhir-akhir ini aq sering banget ngebahas tentang sushi ma teman-temanq....jd pengen tau sushi itu apa ya??
ada yang tau??? klo belum nyook kita lihat bersama....^_^


Nigirizushi, salah satu jenis sushi

Hidangan makizushi (sushi gulung)

Sushi (鮨, 鮓, atau biasanya すし, 寿司?) adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging,sayuran mentah atau sudah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Asal-usul kata sushi adalah kata sifat untuk rasa masam yang ditulis dengan huruf kanji sushi (酸し?). Pada awalnya, sushi yang ditulis dengan hurufkanji 鮓 merupakan istilah untuk salah satu jenis pengawetan ikan disebut gyoshō (魚醤?) yang membaluri ikan dengan garam dapur, bubuk ragi (麹 koji?)atau ampas sake (糟 kasu?). Penulisan sushi menggunakan huruf kanji 寿司 yang dimulai pada zaman Edo periode pertengahan merupakan cara penulisan ateji (menulis dengan huruf kanji lain yang berbunyi yang sama).

Sejarah
Konon kebiasaan mengawetkan ikan dengan menggunakan beras dan cuka berasal dari daerah pegunungan di Asia Tenggara. Istilah sushi berasal dari bentuk tata bahasa kuno yang tidak lagi dipergunakan dalam konteks lain; secara harfiah, "sushi" berarti "itu (berasa) masam", suatu gambaran mengenai proses fermentasi dalam sejarah akar katanya. Dasar ilmiah di balik proses fermentasi ikan yang dikemas di dalam nasi ialah bahwa cuka yang dihasilkan dari fermentasi nasi menguraikan asam amino dari daging ikan. Hasilnya ialah salah satu dari lima rasa dasar, yang disebut umami dalam bahasa Jepang.
Lukisan sushi oleh Ichiyusai Hiroshige dari Zaman Edo.

Nigirizushi dikenal di Jepang sejak zaman Edo. Sebelum zaman Edo, sebagian besar sushi yang dikenal di Jepang adalah jenis oshizushi (sushi yang dibentuk dengan cara ditekan-tekan di dalam wadah kayu persegi). Pada zaman dulu, orang Jepang mungkin kuat makan karena sushi selalu dihidangkan dalam porsi besar. Sushi sebanyak 1 kan (1 porsi) setara dengan 9 kan (9 porsi) sushi zaman sekarang, atau kira-kira sama dengan 18 kepal sushi (360 gram). Satu porsi sushi zaman dulu yang disebut ikkanzushi mempunyai neta yang terdiri dari 9 jenis makanan laut atau lebih.

Pada zaman Edo periode akhir, di Jepang mulai dikenal bentuk awal dari nigirizushi. Namun ukuran porsi nigirizushi sudah dikurangi agar lebih mudah dinikmati. Ahli sushi bernama Hanaya Yohei menciptakan sushi jenis baru yang sekarang disebut edomaezushi. Namun ukuran sushi ciptaannya besar-besar seperti onigiri. Pada masa itu, teknik pendinginan ikan masih belum maju. Akibatnya, ikan yang diambil dari laut sekitar Jepang harus diolah lebih dulu agar tidak rusak bila dijadikan sushi.

Sampai tahun 1970-an sushi masih merupakan makanan mewah. Rakyat biasa di Jepang hanya makan sushi untuk merayakan acara-acara khusus, dan terbatas pada sushi pesan-antar. Dalam manga, sering digambarkan pegawai kantor yang pulang tengah malam ke rumah dalam keadaan mabuk. Oleh-oleh yang dibawa untuk menyogok istri yang menunggu di rumah adalah sushi. Walaupun rumah makan kaitenzushi yang pertama sudah dibuka tahun 1958 di Osaka, penyebarannya ke daerah-daerah lain di Jepang memakan waktu lama. Makan sushi sebagai acara seluruh anggota keluarga terwujud di tahun 1980-an sejalan dengan makin meluasnya kaitenzushi.

Keberhasilan kaitenzushi mendorong perusahaan makanan untuk memperkenalkan berbagai macam bumbu sushi instan yang memudahkan ibu rumah tangga membuat sushi di rumah. chirashizushi atau temakizushi dapat dibuat dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut, tamagoyaki dan nori.

Jenis
Sushi pada umumnya digolongkan berdasarkan bentuk nasi, antara lain nigirizushi, oshizushi, chirashizushi, inarizushi, dan narezushi.
Nigirizushi

Nigirizushi
Makanan laut segar (pada umumnya mentah) diletakkan di atas nasi yang dibentuk dengan menaruh nasi di telapak tangan yang satu dan membentuknya dengan jari-jari tangan yang lain. Nori sering dipakai untuk mengikat neta agar tidak terlepas dari nasi. Lauk yang diletakkan di atas sushi juga bisa dalam keadaan matang seperti tamagoyaki atau belut unagi dan belut anago yang sudah dipanggang.

Pada mulanya, edozushi adalah sebutan untuk sushi yang menggunakan hasil laut Teluk Tokyo, tapi sekarang sering digunakan untuk menyebut nigirizushi. Di Hokkaido yang terkenal dengan hasil laut, istilah namazushi (生寿司?, sushi mentah) dipakai untuk sushi dengan neta mentah. Istilah ini dipakai untuk membedakannya dari sushi asal daerah lain yang sering merebus lebih dulu neta seperti udang yang mudah kehilangan kesegarannya.

Neta untuk nigirizushi
Ikan: aji (selar), iwashi (lemuru), kajikimaguro (marlin), katsuo (cakalang), karei (ikan lidah atau ikan sebelah mata kanan), salem), saba (ikankembung), sanma (saury), suzuki (kerapu), kakap, hamachi (ikan sunglir, nama bergantung usia ikan, bisa disebut buri atau kanpachi), ikan hiramasa, hirame (ikan sebelah), toro (daging perut yang berlemak dari ikan tuna atau tongkol), mekajiki (todak), ikan ainame.
Kerang: aoyagi (bakagai), akagai, hotategai (tiram), hokkigai (ubagai), mirugai (mirukui), tsubu.
Belut: anago, unagi
Udang: amaebi, blacktiger, kuruma ebi, lobster, botan ebi
Kepiting (rajungan): zuwaigani, tarabagani
Telur ikan: ikura, tobiko
Cumi-cumi, uni (bulu babi), dan gurita
Aburage, kanikamaboko (kamaboko daging kepiting tiruan), kampyo (serutan labu yang dikeringkan), mentimun, dashimaki, natto (kedelai fermentasi), neri ume (saus buah plum), negitoro (cacahan daging ikan tuna dengan daun bawang), tsukemono (sayuran hasil fermentasi).

Sushi yang dijual di kaitenzushi mempunyai banyak variasi neta yang bukan asli Jepang, seperti miniburg (daging isi hamburger), berbagai macam jenis daging seperti charsiu, ikan tuna kaleng, dan alpukat.

Cara makan
Nigirizushi dinikmati dengan mencelup sedikit bagian neta ke dalam kecap asin.
Nigirizushi umumnya dimakan dengan tangan, walaupun boleh-boleh saja dimakan memakai sumpit.
Nigirizushi biasanya dimakan dengan sekali suap.

Teknik mengepal nasi
Ada beberapa teknik mengepal nasi yang merupakan seni keterampilan yang harus dikuasai ahli sushi (寿司職人 sushi shokunin?):
Tegaeshi:
Hon tegaeshi
Ko tegaeshi
Tate gaeshi
Yoko tegaeshi
Oyayubi nigiri

Berdasarkan kekuatan tangan sewaktu mengepal, bentuk nasi bisa berupa bentuk silinder (tawaragata), kotak persegi empat (hakogata), dan kapal (funegata).

Di restoran kaitenzushi, nasi yang sudah dibumbui dibentuk secara otomatis menggunakan mesin sushi, bahkan ada nasi bentukan mesin yang sudah diberi wasabi atau diikat dengan nori. Mesin pembuat sushi ada juga yang terlihat seperti tempat nasi tradisional dari kayu agar penikmat sushi mendapat kesan seolah-olah makan sushi yang dikepal oleh ahli sushi sungguhan.

Ahli sushi
Sushi yang telah disiapkan ahli sushi di sushi bar, di kaitenzushi di atas piring-piring beredar.

Ahli sushi (sushi shokunin) adalah sebutan terhormat ahli sushi di restoran sushi tradisional. Di Jepang, ahli sushi merupakan profesi terhormat dengan penghasilan tinggi.

Ahli sushi pada umumnya adalah pria, dan wanita hampir tidak pernah diberi kesempatan. Di restoran sushi, jenis kelamin laki-laki adalah syarat tidak tertulis untuk menjadi ahli sushi. Tradisi ini berasal dari tradisi kuno Jepang yang menempatkan laki-laki pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Walaupun demikian, alasan yang lebih masuk akal adalah suhu tubuh pria yang umumnya lebih rendah dari suhu tubuh wanita. Perubahan fisiologis setiap bulan yang dialami wanita menyebabkan wanita tidak sesuai untuk memegang makanan laut mentah yang rasa dan warnanya mudah dipengaruhi suhu tubuh orang yang memegang.

Di Jepang, ahli sushi wanita umumnya tidak disukai pengunjung restoran sushi. Selain itu, pertimbangan higienis yang tidak jelas asal-usulnya menjadikan ahli sushi tetap merupakan didominasi pria. Walaupun demikian, wanita ahli sushi mulai banyak dipekerjakan di kaitenzushi. Mereka dilarang keras menggunakan kosmetik yang mengandung parfum atau mengecat kuku.

Menurut cerita yang suka dibesar-besarkan, syarat bagi ahli sushi untuk bisa mandiri adalah pengalaman magang paling sedikit 10 tahun, mencakup pelajaran mengepal (nigiri) 3 tahun dan pelajaran menggulung (maki) 8 tahun. Persyaratan formal untuk menjadi ahli sushi sebenarnya tidak ada. Sebagian besar karier ahli sushi justru dimulai sebagai buruh yang dibayar per jam. Keterampilan memilih ikan segar di pasar memang memerlukan pengalaman selama bertahun-tahun. Namun, keterampilan mengepal nasi sudah dikuasai oleh robot pembuat sushi.

Cara menghitung nigirizushi
Dalam bahasa Jepang, Nigirizushi tidak dihitung bukan berdasarkan jumlah kepal (buah), melainkan jumlah porsi yang disebut kan (貫, かん?) dengan berat 1 kan sekitar 40-50 gram (kira-kira sama dengan 2 buah sushi). Nigirizushi 1 kan berarti satu porsi (1 piring) nigirizushi yang terdiri dari 2 buah sushi. Sementara itu, 1/2 kan berarti 1 buah sushi, walaupun 1 kan dapat saja terdiri dari 1 buah sushi bila neta tersebut besar dan mahal.

Cara menghitung inarizushi juga sama seperti menghitung Nigirizushi, 2 buah Inarizushi sebagai 1 kan (1 porsi) walaupun ada tempat juga yang menghitung per buah.

Istilah khusus
Restoran sushi atau sushi bar di Jepang mempunyai istilah-istilah khusus yang memiliki arti lain dalam bahasa Jepang standar.
Agari (teh hijau)
Otesho (kecap asin) atau disebut tamari di daerah Kansai
Kappa (mentimun)
Gari (asinan jahe)
Gyoku (tamagoyaki atau dashimaki)
Kusa (nori)
Gunkan (sushi yang dikelilingi oleh nori)
Shari (nasi untuk sushi)
Tsume atau nitsume (saus kental rasa manis-asin yang dioleskan pada anago, kerang hamaguri atau neta sejenis yang rasanya hambar)
Toro (bagian perut ikan tuna), dibagi-bagi lagi menurut kadar lemak: ootoro dan chutoro
Namida atau sabi (wasabi)
Haran atau baran (daun hijau penghias sushi, sekarang dipakai daun plastik)
Murasaki (kecap asin)

11 Mei 2012

Perayaan Hanami

Perayaan Hanami merupakan salah satu perayaan tahunan di negara Jepang yang ada pada musim semi, tepatnya pada bulan April.

Perayaan Hanami ini adalah perayaan untuk melihat bunga sakura, yang merupakan Bunga khas dari negara Matahari Terbit. Budaya merayakan mekarnya bunga ini, tidak adda di negara Indonesia.

Hanami, merupakan perayaan yan gdiselenggarakan secara sederhana akan tetapi dengan kesederhanaanya itu, perayaan hanami justru menjadi kesenangan terbesar bagi orang-orang Jepang dalam setahun kehidupan mereka.

Budaya seperti ini yang sudah mulai luntur pada diri sebagian masyarakat Indonesia. Dewasa ini, masyarakat Indonesia, pada umunya masyarakat ekonomi kelas atas, lebih suka mencari kesenangan dengan cara menghambur-hamburkan uang, seolah kemewahan merupakan simbol mutlak dari kebahagiaan. Padahal dari kesederhanaan seperti yang yang terdapat pada perayaan hanami di Jepang itu juga bisa tercipta kebahagiaan tersendiri, karena pada saat perayaan hanami, orang-orang Jepang tidak hanya sekedar menikmati keindahan bunga sakura, akan tetapi orang-orang Jepang juga mempunyai waktu tersendiri untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tersayang.



Perayaan Hanami yang dalam sejarah berarti melihat-lihat bunga sakura, dalam perkembangannya perayaan ini lebih bersifat sebagai ajang rekreasi.

Bisa kita bayangkan kebahagiaan orang-orang Jepang pada saat mereka merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga diantara rimbun pepohonan sakura yang sedang mekar. Sebuah rekreasi keluarga dalam kehangatan budaya tradisional yang tidak goyah oleh hadirnya gaya hidup modern. Kenyataan ini sungguh berbeda dengan keadaan masyarakat Indonesia. Budaya Indonesia yang ketimuran justru mulai terkikis oleh hadirnya budaya-budaya barat yang menyebabkan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota, terkesan menjadi masyarakat yang individual. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga jarang mempunyai waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Perayaan Hanami ini tidak bisa dianggap sebagai perayaan yang biasa, karena meskipun sekedar menyaksikan mekarnya bunga sakura, dengan adanya perayaan hanami menunjukkan kecintaan masyarakat Jepang terhadap bunga sakura.

Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan Budaya hanami, meskipun di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya dengan pergi ke tempat karaoke.

Masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di bawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura.

Keteguhan masyarakat Jepang dalam melestarikan budaya tradisional mereka, patut untuk diteladani. Tidak hanya hanami, kebiasaan berkirim nengajo (kartu pos) pada saat tahun baru dan menjelang musim panas juga tetap berlangsung ditengah masyarakat Jepang. Sekalipun kecanggihan teknologi telah memungkinkan mereka untuk meninggalkan kartu pos, tapi masyarakat Jepang masih melaksanakan budaya tradisional tersebut.

Hal-hal tersebut itulah yang sering terlupakan oleh sebagian masyarakat lain, katika mereka disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, mereka tidak lagi mempunya waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga.

Begitu juga ketika kecanggihan teknologi telah merambah masyarakat modern, hanya sebagian kecil dari mereka yang tetap menggunakan jasa kantor pos untuk berkirim kartu pos ataupun surat.

Harusnya kita bisa bercermin pada orang-orang Jepang bagaimana meraka tetap mampu melestarikan budaya tradisional tersebut. Karena dari hal-hal sepele seperti itulah akan tercipta kesempurnaan, akan tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang sepele.

Berbicara tentang hanami tentu tidak akan terlepas dari bunga sakura. Konon kabarnya bunga sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari.

Secara umum bunga sakura bermekaran dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat, yaitu di pulau Okinawa, kemudian merambat ke utara, dan berakhir di Hokkaido. Pada sebuah web di internet pernah dijelaskan bahwa hikmah besar mengenai kehidupan ini tersimpan pada keberadaan bunga sakura. Di balik ukurannya yang mungil, bunga yang memiliki berbagai mcam variasi warna, yang pada setiap tangkainnya berkembang lima hingga ratusan bunga ini telah memberi contoh pada kita bahwa hal-hal kecil jika dirangkai dalam sebuah untaian besar dapat memberi sebuah keindahan, dan hal-hal kecil berarti besar bila dipadukan. Bisa jadi karena beberapa keistimewaan yang terdapat pada bunga sakura itulah, mengapa orang-orang Jepang begitu antusias merayakan hanami untuk menyaksikan mekarnya bunga sakura yang hanya berlangsung selama tujuh sampai sepuluh hari.

Semoga saja kelak dalam perjalanan hidup kita bisa turut menjadi kuncup kecil yang bersatu bersama dengan yang lainnya untuk menciptakan indahnya kebersamaan, seindah kebersamaan orang-orang Jepang ketika merayakan hanami dibawah pohon sakura.

Upacara minum teh (Jepang)

Chashitsu (ruangan upacara minum teh)

Upacara minum teh (茶道 sadō, chadō?, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯?) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.

Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.

Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

Sejarah

Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti Tang di Tiongkok yang menulis buku berjudul Ch'a Ching (茶经) atau Chakyō (bahasa Inggris: Classic of Tea). Buku ini merupakanensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh.

Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentangKaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.

Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip Teh Oolong yang dikenal sekarang ini. Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh belum dinikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer.

Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang diminum.

Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.

Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shōō dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyū di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon, Furuta Shigeteru,Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, dari aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.

Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.

Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke danMushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.

Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.

Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.

Berbagai aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang. Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti sedang bermain-main.

Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuilDaitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.

Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadōberhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.

Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgaimenciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.

Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom berbagai aliran upacara minum teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai aliran upacara minum teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era Meiji. Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh pengusaha sukses seperti Masuda Takashi lalu bertindak sebagai pengayom berbagai aliran upacara minum teh.

Pada tahun 1906, pelukis terkenal bernama Okakura Tenshin menerbitkan buku berjudul The Book of Tea di Amerika Serikat. Memasuki awal abad ke-20, istilah sadō atau chadō mulai banyak digunakan bersama-sama dengan istilah cha no yu atau Chanoyu.

Aliran upacara minum teh
Sansenke - Aliran yang dimulai oleh Sen no Shōan yang merupakan anak yang dibawa oleh istri muda Sen no Rikyū dan diteruskan oleh garis keturunan keluarganya hingga sekarang. Sansenke merupakan garis keturunan terpisah dari keluarga Sakaisenke. Aliran Sansenke terdiri dari:
Omotesenke (nama chashitsu: Fushin-an)
Urasenke (nama chashitsu: Konnichi-an)
Mushanokōjisenke (nama chashitsu: Kankyū-an)
Sōtanryū - Aliran yang dilahirkan Sensōtan (anak Sen no Shōan) dan murid-muridnya. Selain aliran Sansenke, aliran Matsuoryū, aliran Yōkenryū, aliran Sōhenryū, aliran Fusairyū dan aliran Hisadaryū juga masih merupakan garis keturunan Sotanshitennō.
Sakaisenke - Keluarga utama Senke. Sen no Dōan (putra sah Sen no rikyū) merupakan penerus keluarga Senke, tapi garis keturunannya terputus.
Ueda Sōkoryū (pendiri: Ueda Shigeyasu
Urakuryū (pendiri: Oda Uraku)
Edo Senkeryū
Oriberyū
Sakairyū
Sekishūryū Ikeiha
Sekishūryū Ōguchiha
Sekishūryū Shimizuha
Sekishūryū Nomuraha
Sōwaryū (pendiri: Kanamori Shigechika)
Dainippon Sadōgakkai
Chinshinryū
Nararyū
Nambōryū
Hayamiryū
Fusairyū
Higokoryū - Aliran berkembang di wilayah han Kumamoto dan terdiri dari:
Furuichiryū
Koboriryū
Kayanoryū
Hisadaryū
Fujibayashiryū
Fuhakuryū (pendiri: Kawakami Fuhaku)
Fumairyū
Hosokawasansairyū (pendiri: Hosokawa Tadaoki)
Horinouchiryū
Matsuoryū
Mitaniryū
Miyabiryū
Rikyūryū

Hinamatsuri



Hinamatsuri (雛祭り, ひなまつり?) atau Hina Matsuri adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyō (雛人形?, boneka festival).


Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacaraperkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).

Walaupun disebut matsuri, perayaan ini lebih merupakan acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang memiliki anak perempuan. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial.

Susunan boneka
Boneka diletakkan di atas panggung bertingkat yang disebut dankazari (tangga untuk memajang). Jumlah anak tangga pada dankazari ditentukan berdasarkan jumlah boneka yang ada. Masing-masing boneka diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Panggung dankazari diberi alas selimut tebal berwarna merah yang disebut hi-mōsen.

Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion(bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.

Tangga teratas
Dua boneka yang melambangkan kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama) diletakkan di tangga paling atas. Dalam bahasa Jepang, dairi berarti "istana kaisar", dan hina berarti "sang putri" atau "anak perempuan". Wilayah Kansai dan Kanto memiliki urutan kanan-kiri yang berbeda dalam penempatan boneka kaisar dan permaisuri, namun susunan boneka di setiap anak tangga berikutnya selalu sama.


Tangga kedua
Tiga boneka puteri istana (san-nin kanjo) diletakkan di tangga kedua. Ketiga puteri istana membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain membawa poci sake (kuwae no chōshi), dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi). Gigi salah satu boneka puteri istana dihitamkan (ohaguro) dan alisnya dicukur habis. Dalam boneka versi Kyoto, puteri istana yang paling tengah dari Kyoto membawa shimadai (hiasan tanda kebahagiaan dari daunpinus, daun bambu, dan bunga ume).[1]

Tangga ketiga
Lima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi, dan seruling.

Tangga keempat
Dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua. Dari sudut pandang pengamat, Menteri Kanan berada di sebelah kiri, sedangkan Menteri Kiri berada di sebelah kanan.

Tangga kelima
Pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō). Ketiganya masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa) yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan, dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Dalam boneka versi lain, pesuruh pria membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu.[2] Selanjutnya, kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan hadiah pernikahan diletakkan di atas tangga-tangga di bawahnya.

Hidangan
Chirashizushi hidangan Hinamatsuri

Hidangan istimewa untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri antara lain: kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri), serta chirashizushi. Minumannya adalah sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shōchū, dan kōji. Minuman lain yang disajikan adalah sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.





Sejarah
Sebelum kalender Gregorian digunakan di Jepang, Hinamatsuri dirayakan setiap hari ke-3 bulan 3 menurut kalender lunisolar. Menurut kalender lunisolar, hari ke-3 bulan 3 disebut momo no sekku (perayaan bunga persik), karena bertepatan dengan mekarnya bunga persik.

Kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang sejak 1 Januari 1873 sehingga perayaan Hinamatsuri berubah menjadi tanggal 3 Maret. Walaupun demikian, sebagian orang masih memilih untuk merayakan Hinamatsuri sesuai perhitungan kalender lunisolar (sekitar bulan April kalender Gregorian),

Dalam sejumlah literatur klasik ditulis tentang kebiasaan bermain boneka di kalangan anak perempuan bangsawan istana dari zaman Heian (sekitarabad ke-8). Menurut perkiraan, boneka dimainkan bersama rumah boneka yang berbentuk istana. Permainan di kalangan anak perempuan tersebut dikenal sebagai hina asobi (bermain boneka puteri). Pada prinsipnya, hina asobi adalah permainan dan bukan suatu ritual.

Sejak abad ke-19 (zaman Edo), hina asobi mulai dikaitkan dengan perayaan musim (sekku) untuk bulan 3 kalender lunisolar. Sama halnya dengan perayaan musim lainnya yang disebut "matsuri", sebutan hina asobi juga berubah menjadi Hinamatsuri dan perayaannya meluas di kalangan rakyat.

Orang Jepang di zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi("menghanyutkan boneka"). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, dan dikirim dalam perjalanan menyusuri sungai hingga ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat.

Kalangan bangsawan dan samurai dari zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah, dan sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Sebagai lambang status dan kemakmuran, orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin.

Boneka yang digunakan pada awal zaman Edo disebut tachibina (boneka berdiri) karena boneka berada dalam posisi tegak, dan bukan duduk seperti sekarang ini. Asal-usul tachibina adalah boneka berbentuk manusia (katashiro) yang dibuat ahli onmyōdō untuk menghalau nasib sial. Boneka dalam posisi duduk (suwaribina) mulai dikenal sejak zaman Kan'ei. Pada waktu itu, satu set boneka hanya terdiri sepasang boneka yang keduanya bisa dalam posisi duduk maupun berdiri.

Sejalan dengan perkembangan zaman, boneka menjadi semakin rumit dan mewah. Pada zaman Genroku, orang mengenal boneka genrokubina (boneka zaman Genroku) yang dipakaikankimono dua belas lapis (jūnihitoe). Pada zaman Kyōhō, orang mengenal boneka ukuran besar yang disebut kyōhōbina (boneka zaman Kyōhō). Perkembangan lainnya adalah pemakaian tirai lipat (byōbu) berwarna emas sebagai latar belakang genrokubina dan kyōhōbina sewaktu dipajang.

Keshogunan Tokugawa pada zaman Kyōhō berusaha membatasi kemewahan di kalangan rakyat. Boneka berukuran besar dan mewah ikut menjadi sasaran pelarangan barang mewah oleh keshogunan. Sebagai usaha menghindari peraturan keshogunan, rakyat membuat boneka berukuran mini yang disebut keshibina (boneka ukuran biji poppy), dan hanya berukuran di bawah 10 cm. Namun keshibina dibuat dengan sangat mendetil, dan kembali berakhir sebagai boneka mewah.

Sebelum zaman Edo berakhir, orang mengenal boneka yang disebut yūsokubina (boneka pejabat resmi istana). Boneka dipakaikan kimono yang merupakan replika seragam pejabat resmi istana. Prototipe boneka Hinamatsuri yang digunakan di Jepang sekarang adalah kokinbina (translasi literal: boneka zaman dulu). Perintis kokinbina adalah Hara Shūgetsu yang membuat boneka seakurat mungkin berdasarkan riset literatur sejarah. Boneka yang dihasilkan sangat realistik, termasuk penggunaan gelas untuk mata boneka.

Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.